TEORI ONGKOS PRODUKSI

 TEORI ONGKOS PRODUKSI

Nama: Oksi Wijaya Kusuma Efendi
Nim: 222010200195
Dosen Pengampu: Tofan Tri Nugroho, S.E., M.M.
Prodi: Manajemen
Fakultas Bisnis, Hukum dan Ilmu Sosial
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

A. Definisi Biaya (Cost)

Analisis biaya perusahaan perlu membedakan antara jangka pendek dan jangka panjang. Ongkos produksi terdiri dari pengeluaran untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan mentah. Ada dua jenis ongkos: eksplisit (pembayaran dengan uang) dan tersembunyi (taksiran pengeluaran atas faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan). Pengeluaran tersembunyi meliputi keahlian keusahawanan produsen, modal sendiri, dan bangunan perusahaan. Pengeluaran tersebut dapat ditaksir dengan melihat pendapatan tertinggi jika produsen bekerja di perusahaan lain, modal dipinjamkan, atau bangunan disewakan.

B. Biaya Produksi Jangka Pendek

Biaya produksi jangka pendek merujuk pada suatu periode waktu di mana perusahaan tidak dapat memperbesar atau mengecilkan ukuran pabrik. Periode ini biasanya hanya beberapa minggu atau bulan saja. Pada periode ini, perusahaan dapat mengubah beberapa input yang digunakan, seperti tenaga kerja, bahan mentah, dan lain-lain, namun tidak semua input dapat diubah. berikut beberapa jenis ongkos atau biaya produksi:
1. Biaya Tetap atau Fixed Cost  (FC)
Biaya tetap atau fixed cost adalah jenis biaya produksi jangka pendek yang tidak berubah terlepas dari tingkat produksi atau penjualan suatu barang atau jasa. Beberapa karakteristik biaya tetap meliputi tidak berkaitan dengan volume produksi, tetap dalam jangka waktu pendek, dan contohnya seperti sewa pabrik dan gaji karyawan tetap. Biaya tetap harus tetap dibayar bahkan jika perusahaan mengalami periode produksi atau penjualan nol. Dalam analisis break-even, biaya tetap merupakan faktor kritis untuk menentukan jumlah minimum produk yang harus dijual untuk menutupi semua biaya. Memahami biaya tetap membantu perusahaan dalam pengelolaan keuangan dan membuat keputusan operasional yang lebih informasional. 
2. Biaya Variabel atau Variable Cost  (VC)

Biaya variabel adalah biaya yang berubah seiring dengan perubahan tingkat produksi atau penjualan dan berkorelasi dengan volume produksi. Biaya ini penting dalam analisis margin kontribusi dan pengambilan keputusan operasional serta manajemen keuangan perusahaan. Biaya variabel disingkat VC dan tergantung langsung pada tingkat output dan menunjukkan keterlibatan input yang berhubungan langsung dengan output.

3. Biaya Total atau Total Cost  (TC)

Biaya total  meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang tetap konstan, seperti sewa pabrik dan gaji manajemen. Biaya variabel berubah sesuai dengan volume produksi atau penjualan, seperti bahan baku dan biaya tenaga kerja. Memahami biaya total penting untuk pengambilan keputusan manajerial, termasuk menentukan tingkat produksi optimal dan merencanakan produksi berikutnya. 

   Gambar Kurva Total Cost

Kurva diatas menjelaskan kurva TFC atau FC berbentuk garis horizontal karena merupakan biaya tetap yang tetap sama, tidak peduli berapa output yang dihasilkan. Pada kurva TVC atau VC yang menggambarkan biaya variabelnya terus mengalami kenaikan, yang meningkat seiring dengan pertambahan jumah output yang duhasilkan. Kurva TC merupakan penjumlahan antara FC dan VC. Kurva TC dimulai dari garis yang bersinggungan dengan FC saat 0 output dihasilkan. Seiring pertambahan output, dibutuhkan biaya VC yang membuat bentuk kurva TC mengikuti bentuk kurva VC. Kurva TC akumulasi dari TFC dan VC. Berikut rumus TC nya:
                                                                    TC =FC + VC
4. Biaya Tetap rata-rata atau Average Fixed Cost (AFC)
Dalam produksi jangka pendek, Average Fixed Cost (AFC) dihitung dengan membagi total biaya tetap dengan jumlah unit yang diproduksi. AFC membantu menentukan penggunaan kapasitas produksi yang efisien, tingkat produksi yang optimal, perencanaan biaya, penetapan harga, titik impas, dan manajemen sumber daya dalam jangka pendek. AFC tetap konstan atau menurun per unit output. Rumusnya adalah: 

5. Biaya Berubah rata-rata atau Average Variable Cost  (AVC)

AVC (Average Variable Cost) mencerminkan biaya variabel per unit output. Ini dihitung dengan membagi total biaya variabel dengan jumlah output. Biaya variabel adalah biaya yang bervariasi menurut tingkat produksi atau output, termasuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya variabel lainnya yang berkaitan dengan produksi barang atau jasa. AVC cenderung menurun per unit output seiring dengan meningkatnya tingkat produksi, menunjukkan efisiensi dalam penggunaan faktor produksi. AVC penting untuk pengambilan keputusan terkait tingkat produksi optimal, harga, dan profitabilitas dalam jangka pendek. Memahami AVC membantu manajemen menganalisis efisiensi produksi dan membuat keputusan yang tepat. Rumusnya adalah:

6. Biaya Total rata-rata atau Average Cost (AC)

Biaya Total Rata-rata (Average Cost atau AC) adalah biaya total per unit output yang mencakup biaya tetap dan biaya variabel dalam produksi jangka pendek. AC dapat menjadi indikator efisiensi produksi, penting dalam pengambilan keputusan terkait produksi, penetapan harga, dan perencanaan keuangan. AC juga memainkan peran penting dalam menentukan titik impas (break-even point). Memahami AC membantu perusahaan mengoptimalkan produksi, menetapkan harga yang bersaing, dan membuat keputusan keuangan yang informasional dalam jangka pendek. Rumusnya adalah:

7. Biaya Marjinal atau Marginal Cost (MC)

Biaya Marginal (MC) adalah biaya tambahan yang dikeluarkan untuk memproduksi satu unit output tambahan dalam konteks biaya produksi jangka pendek. Hal ini dapat dihitung dengan mengambil turunan pertama dari fungsi biaya total terhadap tingkat produksi atau dengan menghitung perubahan biaya total yang disebabkan oleh perubahan satu unit output. MC penting untuk pengambilan keputusan dalam jangka pendek, membantu perusahaan untuk menentukan apakah akan memproduksi lebih banyak atau lebih sedikit dari jumlah saat ini. Dalam situasi optimal, perusahaan berproduksi hingga MC sama dengan harga jual. MC tidak selalu tetap, dan faktor-faktor seperti skala ekonomi atau ketidaksempurnaan pasar dapat mempengaruhi apakah MC tetap stabil, meningkat, atau menurun. Memahami MC sangat penting dalam analisis biaya dan pengambilan keputusan produksi. Perusahaan dapat menggunakan informasi ini untuk mengoptimalkan keuntungan dan efisiensi operasionalnya. Rumusnya adalah:

C. Biaya Produksi Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, perusahaan dapat menambah semua faktor produksi yang dibutuhkan tanpa membedakan ongkos produksi menjadi tetap atau berubah. Semua pengeluaran pengusaha menjadi ongkos berubah, termasuk tambahan tenaga kerja, mesin, lahan, dan bangunan atau pabrik.

1. Cara Meminimumkan Ongkos dalam Jangka Panjang

Untuk meminimalkan biaya jangka panjang, lakukan analisis biaya, buat anggaran, lakukan negosiasi dengan pemasok, tingkatkan efisiensi energi, manfaatkan teknologi dan otomatisasi, berinvestasi dalam pendidikan karyawan, pertahankan tingkat persediaan yang optimal, lindungi diri dari risiko keuangan, tingkatkan kesadaran tentang konservasi sumber daya, manfaatkan layanan cloud, lakukan pemeliharaan preventif, dan lakukan evaluasi rutin. Konsistensi dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis atau kehidupan pribadi diperlukan untuk mencapai tujuan ini.

2.  Kurva Ongkos Total Rata-Rata Jangka Panjang

Kurva Ongkos Total Rata-Rata Jangka Panjang menunjukkan hubungan antara output dan biaya rata-rata jangka panjang dalam jangka panjang. Biaya rata-rata akan menurun saat skala produksi meningkat karena efisiensi skala, tetapi mungkin akan meningkat karena diseconomies of scale. Titik minimum di kurva mencerminkan tingkat produksi optimal di mana perusahaan mencapai efisiensi maksimum dalam penggunaan faktor produksi. Kurva elastis mengukur sejauh mana biaya rata-rata berubah sebagai respons terhadap perubahan output. Kurva membantu perusahaan dalam mengambil keputusan strategis tentang skala produksi yang optimal untuk mencapai efisiensi biaya maksimum.

3. Skala Ekonomis dan Tidak Ekonomis

Skala ekonomis dan tidak ekonomis mengacu pada perubahan biaya rata-rata per unit output seiring dengan perubahan skala produksi. Skala Ekonomis terjadi ketika biaya rata-rata per unit output menurun seiring dengan peningkatan skala produksi. Ini dapat disebabkan oleh spesialisasi tenaga kerja, pembelian massal, pemanfaatan peralatan, dan R&D. Skala Tidak Ekonomis terjadi ketika biaya rata-rata per unit output meningkat seiring dengan peningkatan skala produksi. Ini dapat disebabkan oleh kesulitan manajerial, kesulitan koordinasi, dan biaya agensi. Skala optimum terjadi ketika biaya rata-rata per unit output mencapai nilai minimumnya. Minimum biaya rata-rata jangka panjang adalah titik di mana biaya rata-rata per unit output mencapai nilai minimumnya dalam jangka panjang. Memahami konsep ini membantu perusahaan dalam merencanakan pertumbuhan, pengelolaan kapasitas produksi, dan pengambilan keputusan strategis.

D. Bentuk-Bentuk Kurva Biaya Rata-Rata Jangka Panjang

Bentuk kurva Biaya Rata-Rata Jangka Panjang atau Long-Run Average Cost (LRAC), yang mencerminkan skala ekonomi dan non-ekonomi dari aktivitas suatu perusahaan, sangat penting dalam menentukan jumlah perusahaan dalam suatu industri. Secara singkat, kita dapat membedakan tiga bentuk kurva LRAC. Berikut gambar-gambar Tiga bentuk kurva biaya rata-rata dalam jangka panjang:

Gambar kurva menurun cepat

Grafik kurva LRAC pada Gambar diatas  mengindikasikan bahwa peningkatan produksi dalam jumlah kecil telah memberikan manfaat skala ekonomis. Namun, pada tingkat produksi yang relatif rendah, skala ekonomis tidak lagi terjadi, dan terlihat terjadinya skala tidak ekonomis. Kurva tersebut memperlihatkan penurunan yang signifikan dalam biaya produksi rata-rata dengan kenaikan produksi yang sedikit.

   Gambar Kurva LRAC datar

Pada gambar kurva ini, awalnya terlihat adanya keuntungan dalam skala ekonomi, namun keadaan ini tidak berlangsung lama. Selanjutnya, terlihat kurva LRAC yang datar, menunjukkan bahwa skala yang tidak ekonomis belum mendominasi aktivitas perusahaan.

Gambar Kurva tingkat produksi tinggi skala tidak ekonomis

Kurva LRAC menunjukkan skala ekonomis dalam industri. Kurva LRAC yang tinggi menunjukkan bahwa terdapat skala tidak ekonomis pada tingkat produksi yang tinggi. Industri dengan kurva LRAC semacam itu terdiri dari perusahaan yang berbeda-beda ukurannya, tetapi biasanya terdiri dari perusahaan yang sangat besar. Hal ini karena skala ekonomis masih ada dalam industri tersebut sehingga jumlah produksi menjadi sangat besar.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL (BAB 2)

(BAB 8) ASPEK TEKNIK DAN OPERASI dalam STUDI KELAYAKAN BISNIS

(BAB 4) ASPEK HUKUM DALAM STUDI KELAYAKAN BISNIS